Breaking News
Home >> Balikpapan >> Terungkap dari Pemetaan Keuangan

Terungkap dari Pemetaan Keuangan

Penggelapan Uang Kas BPMP2KB

BALIKPAPAN- Defisit anggaran yang terjadi di seluruh SKPD dan badan ternyata tidak sepenuhnya berdampak buruk. Ada hikmah di balik defisit anggaran itu karena dari situ terungkap kasus dugaan penggelapan dana BPMP2KB Balikpapan oleh mantan bendahara N (29) yang kini menghilang.
Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, dan Keluarga Berencana (BPMP2KB) Sri Wahyuningsih mengatakan terungkapnya dugaan penggelapan anggaran BPMP2KB karena adanya pemetaan keuangan sehubungan dengan adanya defisit APBD 2016.
Sri Wahyuni yang akrab disapa Yuyun menginstruksikan bawahannya untuk melakukan pemetaan dana-dana yang sudah cair beserta pos-pos dananya. Tujuannya agar yang dirasionalisasi bukanlah pos yang sudah dinyatakan cair. “Lalu saya tugaskan para kuasa pengguna anggaran (KPA) memetakan kegiatan-kegiatan yang sudah dilaksanakan tetapi kami masih memiliki utang. Lalu habis itu saya ekspos dan dari situlah saya dapatkan fakta aduan dari KPA. Mereka bilang itu sudah dinyatakan cair oleh bendahara tapi kok kami belum pernah menerima?” terangnya.
Yuyun lalu meminta seluruh kuasa pengguna anggaran melakukan pemetaan kembali kesenjangan antara dana yang dinyatakan bendahara sudah cair tapi belum diterima. Ternyata setelah dilakukan proses sinkronisasi terdapat selisih angka senilai Rp300 juta. “Lalu saya panggil bendahara dan dia mengakui uangnya belum diserahkan. Dia bilang dia sengaja menggunakan lalu saya suruh dia membuat pernyataan tertulis dan ternyata cukup mengagetkan ternyata dalam surat pernyataan tertulis itu disampaikan bahwa dia sudah kecanduan open trip atau travelling gaya backpacker dan belanja online. Jadi dana itu digunakan untuk membiayai perjalanan dan gaya hidup. Langsung itu saya laporkan ke Pak Wali dan dari September sampai Oktober itu ada proses pemeriksaan Inspektorat. Belum selesai prosesnya, tanggal 19 Oktober yang bersangkutan melarikan diri,” jelasnya.
Wanita berjilbab ini geram atas kelakuan H (29), eks bendahara berstatus PNS yang diduga menggelapkan uang senilai lebih dari Rp 300 juta. “Saya menyerahkan semua proses itu kepada pihak Kepolisian. Ya semoga saja H bisa segera ditemukan dan bisa segera mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang sudah ditimbulkan karena banyak sekali pihak-pihak yang dirugikan. Rekanan-rekanan kami ini menunggu pembayaran,” ujarnya.
Yuyun masih menganggap aksi ini bukan tindak pidana korupsi melainkan penggelapan karena secara administrasi lengkap kemudian dana pun sudah diambil dari bank, tinggal diserahkan.(din)