Home >> Balikpapan >> Tren Penderita Gizi Buruk Terus Meningkat
berita_177977_800x600_gizi_buruk_ntt-foto_jpnn-com_

Tren Penderita Gizi Buruk Terus Meningkat

Tahun 2016 Ditemukan 14 Kasus

BALIKPAPAN – Penderita gizi buruk di Kota Balikpapan selama tiga tahun terakhir terus meningkat. Hal ini tidak lepas dari arus pendatang ke kota Balikpapan. Namun, Dinas Kesehatan Kota mencatat tidak ada penderita gizi buruk murni karena kemiskinan.
Kepala Bidang Bina Kesehatan masyarakat DKK Balikpapan Sri Juliarty mengatakan, data terbaru penderita gizi buruk tahun 2016 ini tercatat sebanyak 14 kasus namun semuanya sudah tertangani 100 persen.
“Dibandingkan tahun lalu, terjadi peningkatan sebanyak empat kasus karena penderita gizi buruk tahun 2015 hanya 10 orang dan pada tahun 2014 delapan orang,” ungkap Sri Juliarty usai menghadiri peringatan Hari Masyarakat Hidup Sehat di halaman kantor Pemkot kemarin.
Dio panggilan akrab Sri Jualiarty mengatakan penderita gizi buruk ini mayoritas diderita oleh anak atau keluarga dari luar Balikpapan atau kaum urban.
“Banyak faktor yang menyebabkan balita kena penyakit gizi buruk seperti, kesalahan pola asuh, kondisi lingkungan tidak sehat dan lain sebagainya. Kalau sering sakit, misalnya batuk pilek sampai panas tinggi, secara otomatis berat tubuh anak akan menyusut. Nah, itu sebabnya gizi buruk serta ada juga disebabkan faktor keturunan (gen),” terangnya.
Balita atau anak penderita gizi buruk, lanjut Dio, akan mendapatkan pemantauan dan pemeriksaan secara rutin selama tiga bulan. Keluarga penderita akan mendapatkan formula gizi. “Ini tidak boleh putus. Dibantu pemerintah ada pemberian makanan tambahan. Gizi buruk ini harus dipantau terus karena tidak terjadi tiba-tiba dan pemulihan juga lama,”tandasnya.
“Nanti setahun itu harus dipantau kembali karena ada beberapa kasus ada yang sudah dinyatakan baik oleh dokter karena tidak telaten, pola asuh tidak berubah, eh tahun depan kembali dengan gizi buruk,” sambungnya.
Penanganan ini tidak mudah karena sangat berpengaruh pada pemahaman orang tua, tingkat sosial ekonomi keluarga itu sendiri.
Menurut Dio, kasus penderita gizi buruk di Balikpapan tidak ada gizi buruk murni. Artinya, tidak disebabkan kelaparan berkepanjangan atau karena faktor kemiskinan. Melainkan kebanyakan disebabkan kesalahan dari orang tua yang tidak memberi makan anak secara teratur. “Kebanyakan karena tidak memperhatikan asupan gizi, ada kesalahan pola asuh,” ucapnya.
DKK melalui kadernya termasuk peran puskesmasm Posyadu terus menerus melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengatasi gizi buruk.
“Pada dasarnya masyarakat masih banyak yang kurang paham pentingnya kekebalan tubuh bagi anak. Misalnya memberi makan pada anak tidak teratur. Nah, dengan begitu kekebalan anak akan berkurang, penyakit akan mudah datang,” tukasnya. (din)