Harga Karet Anjlok di Bawah Kewajaran


korankaltim
korankaltim
2017-05-22 07:00:34
Petani Desak Pemkab Ambil Alih Pabrik Karet di Mencimai



SENDAWAR – Anjloknya harga jual karet di Kutai Barat (Kubar), hingga kini masih menjadi ‘tanda tanya’ oleh petani karet. Per kilogram harga karet hampir merata hanya dihargai tengkulak Rp3.800 hingga Rp4 ribu.

Hal itu membuat petani karet di Kubar nyaris ‘berteriak’, karena tak sepadan dengan harga kebutuhan pokok sehari-hari.

Sejumlah petani karet beberapa kecamatan di Kubar, kepada Koran Kaltim menjelaskan dengan harga beli tengkulak saat ini, semakin menambah kesulitan hidup. Mereka berharap pemerintah dan DPRD mengambil tindakan nyata. Bahkan jika mungkin, pabrik karet yang sudah ada di Kampung Rejo Basuki (Mencimai) agar segera diambil alih oleh Pemkab Kubar.

“Pada Februari-Maret 2017 sempat harga melonjak tinggi Rp8 ribu per kilogram. Sekarang anjlok lagi di bawah kewajaran. Tengkulak terbanyak dari Banjarmasin, Kalsel, mereka beli dengan harga sangat murah Rp3.800 per kilogram. Alasannya, karena gudang di Kalsel penuh,” ujar Dibon (49) petani karet, warga Kampung Ujoh Halang, Kecamatan Long Iram.

Begitu pula dipaparkan Masransyah (46) petani karet di Kampung Awai, Kecamatan Nyuatan. Dia berkeluh-kesah dengan harga getah karet di Kubar saat ini yang sangat rendah. Menurutnya, jika pemerintah ingin menaikkan harga tersebut, jalan terbaik adalah segera mengambil alih pabrik karet yang ada di Kampung Mencimai.

“Kalau cuma janji datangkan investor itu sudah bertahun-tahun, tapi kenyataannya tak ada. Selama ini petani jadi ‘kambing hitam’ dengan alasan karet kotor bercampur, sehingga harga jual rendah. Mustahil alasan itu, mudah saja, jika memang getah kotor, jangan dibeli dan ditandai. Karena tidak semua petani berlaku curang,” ungkapnya.

Dia menuturkan, untuk mengubah nasib petani karet di Kubar, pemkab harus mengambil alih pabrik pengolahan getah karet di Mencimai. Melalui salah satu Perusahaan Daerah (Perusda), berikan wewenang sebagai pengumpul tunggal karet petani se-Kubar. “Tarik pabrik itu (di Mencimai), berikan wewenang kepada salah satu Perusda untuk beli getah karet petani. Dengan demikian, maka harga karet bisa tinggi, normal dan terkendali,” imbuhnya.

Ketua Komisi III DPRD Kubar, Lucia Ipin, mengatakan telah melakukan studi banding, bahkan memboyong ke Kubar, pabrik pengolahan getah karet di Palaran, Kota Samarinda. “Manajemen pabrik karet di Palaran itu sudah melakukan MoU dengan salah satu pengusaha karet besar di Kubar. Mereka datang langsung ke Sendawar, dalam waktu dekat getah karet petani di Kubar siap mereka beli dengan harga normal. Saya sarankan, agar petani jujur, tidak mencampur getah karet dengan kotoran yang bisa menjatuhkan harga jual,” jelasnya.

Hal itupun diakui Wakil Bupati Kubar Edyanto Arkan yang datang langsung menemui petani karet di Kampung Sekolaq Joleq, Kecamatan Sekolah Darat, pekan lalu. Menurutnya sala satu pabrik karet di dalam wilayah Kaltim telah siap bekerjasama dengan Pemkab Kubar. “Sekarang ini, petani bersabar dulu. Pemkab Kubar upayakan secepatnya kerjasama dengan pabrik pengolahan getah karet dari Palaran, Samarinda. Itu diantara solusi menaikkan harga jual getah karet petani

di Kubar. Tapi saya pesankan, getah karetnya harus bersih,” ungkapnya. (imr)

baca LAINNYA

korankaltim
korankaltim
1 tahun yang lalu | dibaca 1.114 kali
img
korankaltim
korankaltim
1 tahun yang lalu | dibaca 556 kali
img