Breaking News
Home >> Berau - Kubar >> Buang Sial jadi Tradisi Turun Menurun
PROSESI Mandi Linjuang sebagai acara inti dari Buang Naas
PROSESI Mandi Linjuang sebagai acara inti dari Buang Naas

Buang Sial jadi Tradisi Turun Menurun

Prosesi Buang Naas Masyarakat Talisayan

KAMPUNG Talisayan di kecamatan Talisayan yang berjarak 4 jam perjalanan darat dari Tanjung Redeb, memiliki budaya yang setiap tahun di bulan Safar selalu mereka gelar yakni Buang Naas atau Tolak Bala. Koran Kaltim berkesempatan mengabadikan momen sakral yang dilaksankan warga setempat, Rabu (30/11) kemarin.
Prosesi Buang Naas pukul 08.00 WITA, menarik perhatian warga, tidak hanya dari warga Talisayan, melainkan juga dari luar Talisayan.
Buang Naas sendiri memiliki makna buang sial dari segala mara bahaya dan kesialan, dan menjadi tradisi turun temurun sejak lama. Kepala Kampung Talisayan Yamsir dalam sambutannya menyampaikan, perayaan pesta adat buang nahas, berjalan sesuai rencana. Namun disampaikannya, masih banyak kekurangan-kekurangan yang harus lebih ditingkatkan agar perayaan pesta buang nahas dapat lebih meriah.
“Untuk kita berharap pemerintah agar tidak bosan-bosannya memberikan dukungannya agar kedepannya pesta adat ini dapat lebih meriah di tahun mendatang,” ungkapnya.
Sementara itu, Asisten III Setkab Berau Abdul Rahman, yang mewakili Bupati juga menerangkan, masyarakat di pesisir selatan Berau, dengan budaya Buang Naas, seiring dengan pencanangan tahun gebrakan wisata Berau.
“Kita sangat mengapresiasi kegiatan ini. Kita harap acara ini dapat selalu dijaga dan dilestarikan, dan kita akan selalu mendukung kegiatan ini,” pungkasnya.
Hari puncak buang naas sendiri diakhiri dengan prosesi mandi linjuang, kepada 10 anak dengan menggunakan pakaian berwarna kuning, sebagai simbol tolak bala yang dipimpin oleh tokoh adat Kampung Talisayan. (mh216)