Share?

COP Telusuri TKP Orangutan yang Mati Diberondong Peluru


korankaltim
korankaltim
    2018-02-12 08:22:40.000000
img

DIKELILINGI SAWIT: Lokasi tempat ditemukannya Mario, orangutan yang mati diberondong peluru. (Foto: Center of Orangutan Protection)

BONTANG - Kematian individu orangutan yang diberi nama Morio oleh Balai TNK dan BKSDA masih diselidiki Polres Kutai Timur (Kutim). 

Kematian Morio atau yang disebut Kaluhara II oleh Center of Orangutan Protection (COP) mati dengan sangat mengenaskan pada Selasa (6/2) lalu. Terdapat 130 peluru di tubuhnya akibat diberondong senapang angin serta tebasan parang dan bekas hantaman benda tumpul.

Minggu (11/2) kemarin,  COP menelusuri lokasi tepatnya orangutan berkelamin jantan ini ditemukan pertama kali, di danau Teluk Pandan, Kutim.

Dikatakan Manager Program Perlindungan Habitat COP Ramadhani, ia bersama Paulinus mencoba menelusuri lokasi sekitar TKP. 

“Tujuan kami sebenarnya ingin tahu apa sih sebenarnya yang terjadi di sekitar lokasi. Pasalnya, sangat jarang orangutan memakan sawit. Nah, dari hasil nekropsi, ada tiga buah sawit ditemukan di dalam lambungnya,” ujar Dhani, sapaan akrab Ramadhani.

Di lokasi itu, kata Dhani, dikelilingi kebun sawit luas sekitar 2 hektare dan rawa dengan dengan kedalaman 1-5 meter. 

Selain itu, Dhani dan Paulinus juga menemukan dua sarang tipe C, perkiraan berumur 4-5 bulan. Namun belum bisa dipastikan, apakah sarang itu adalah sarang Mario atau ada orangutan lain. 

Yang aneh, kata Dhani, Mario ditemukan berada di tengah danau dengan memeluk sebuah ranting pohon. Padahal, orangutan diketahui sangat takut dengan air.  “Kami coba kelilingi danau tidak ada yang nyambung, semua terpisah, nah ini jadi pertanyaan lain. Tiang yang dipeluk semalaman, tidak nyambung ke daratan, ini juga heran. Bagaimana dia bisa menyeberang,” kata Dhani.

Selain itu, mereka juga mencoba mencari sarang yang ada di tanah. Sebab, Mario diketahui mengalami kebutanaan. Dengan kondisi seperti itu, mustahil bagi Mario untuk bersarang di atas pohon. “Tapi tidak menemukan,” ujar Dhani.

Dhani penyelidikan terhadap kematian orangutan ini segera membuahkan hasil. “Harapan saya segera mungkin pihak kepolisian bisa menemukan pelaku penembakan orangutan itu,” kata Dhani.

Dhani menjelaskan, dari 130 peluru yang bersarang di tubuh Mario,  74 peluru di kepala, sembilan peluru di tangan kanan, 14 peluru di tangan kiri, 10 peluru di kaki kanan, enam peluru di kaki kiri, dan 17 peluru di dada. Berondongan peluru ini diduga menyebabkan kebutaan pada kedua mata Mario. 

“130 peluru adalah terbanyak dalam sejarah konflik antara orangutan dan manusia yang pernah terjadi di Indonesia. Saya harap ini segera terungkap. Jangan sampai gara-gara lemahnya penyelesaikan kasus dan kurangnya kesadaran masyarakat sehingga kasus seperti ini terus terulang dan terulang lagi nanti,” pungkas Dhani. (cil)


berita TERKAIT


baca LAINNYA

Korankaltim.com - Cerdas Bersama Rakyat