Home >> Sportainment >> Jatuh karena Kehabisan Bahan Bakar
MENGHARUKAN: Pemain yang tersisa dari tim Chapecoense, hadir di stadion bersama fans untuk memberikan penghormatan kepada rekan mereka yang tewas setelah pesawat yang ditumpangi jatuh di Kolombia.
MENGHARUKAN: Pemain yang tersisa dari tim Chapecoense, hadir di stadion bersama fans untuk memberikan penghormatan kepada rekan mereka yang tewas setelah pesawat yang ditumpangi jatuh di Kolombia.

Jatuh karena Kehabisan Bahan Bakar

MEDELLIN – Rekaman antara Air Traffic Controller (ATC) Bandara internasional Jose Maria Cordova dengan pilot pesawat tim Chapecoense yang dibocorkan kepada salah satu stasiun radio di Medellin menunjukkan pesawat itu kehabisan bahan bakar dan mengalami mati listrik.
Situs BBC memuat rekaman itu di lamannya. Dalam rekaman itu, pilot terdengar mengatakan “total electrical failure (kegagalan elektrik total)” dan “we are without fuel (kami tanpa bahan bakar)”.
Ketinggian pesawat yang dilaporkan pilot sebelum percakapan itu selesai adalah 2.743 meter dan jarak terakhir pesawat dengan lintasan Bandara Jose Maria Cordova sekitar 15 kilometer. Pesawat itu akhirnya jatuh di area pegunungan dekat Medellin. Badan pesawat terbelah. Dari 77 penumpang, hanya enam yang selamat.
Chapecoense, salah satu klub sepak bola Brasil kasta tertinggi Seri A, sedang dalam perjalanan menuju Medellin untuk menjalani final Copa Sudamericana melawan klub setempat, Atletico Nacional.
Tidak adanya ledakan saat pesawat itu jatuh semakin menguatkan dugaan bahwa pesawat itu kehabisan bensin. Salah satu sumber AFP di kalangan militer Kolombia menuturkan tidak adanya bensin merupakan sesuatu yang aneh. Menurut BBC, para penyelidik kecelakaan itu belum mengumumkan satu pun penyebab kecelakaan. Analisis menyeluruh kemungkinan baru akan rampung beberapa bulan ke depan.
Sementara itu, lebih dari 100 ribu suporter Atletico Nacional memadati stadion dan jalanan Medellin untuk memberikan penghormatan kepada tim Chapecoense.
Kamis (1/12) kemarin, Atletico Nacional seharusnya menjamu Chapecoense dalam leg pertama final Copa Sudamericana (kompetisi level kedua benua Amerika Selatan). Klub Atletico Nacional kemudian menggelar upacara penghormatan untuk menghormati rival mereka pada jam yang seharusnya digunakan untuk menggelar pertandingan.
Satu jam sebelum seremoni dimulai, penggemar Chapecoense telah memadati stadion yang berkapasitas 46 ribu tersebut. Mereka membawa bunga dan menitikkan air mata ketika satu menit mengheningkan cipta dimulai. “Kami mengharapkan pertandingan yang bagus. Mereka memang tidak sebesar Nacional, tapi mereka datang untuk memberikan yang terbaik. Jadi malam ini kami semua menjadi penggemar Chapecoense,” kata Lidia Alzate yang datang berbaju putih bersama kedua anaknya, seperti dikutip dari Reuters.
Nyaris 4.800 kilometer dari Medellin, tepatnya di daerah Brasil Selatan, penggemar Chapecoense juga memadati stadion untuk memberikan penghormatan bagi kesebelasan. Kisah Chapecoense yang sukses mendaki dari divisi keempat ke telah merebut hati dan imajinasi penduduk lokal. Dengan menggunakan sinar dari layar telepon genggam, mereka menyinari stadion berkapasitas 20 ribu itu –sepersepuluh populasi kota– dan memberikan dukungan kepada para pemain muda dan tim cadangan yang berjalan mengelilingi lapangan. “Ada banyak sekali emosi di stadion ini. Rasanya seperti malam pertandingan,” kata Francis Fabio yang menitikkan air mata.
Di layar besar, diputar video singkat tribut dari para pendukung Atletico Nacional yang menyanyikan lagu untuk Chapecoense. “Biarkan orang-orang di seluruh benua mendengarkan. Kami akan selalu mengingat Chapecoense sang juara,” bunyi lagu yang mereka nyanyikan bersama-sama. (lbc/mar)