Breaking News
Home >> Headline >> Ternyata, Penyerangan RSIS Hanya Isu Belaka

Ternyata, Penyerangan RSIS Hanya Isu Belaka

SAMARINDA – Isu penyerangan oleh sekelompok orang ke Rumah Sakit Islam Samarinda. (RSIS), Kamis (1/12) santer beredar di publik Kota Tepian, Samarinda. Ternyata, kabar tersebut hanya isu belaka.
Wakil Direktur Pelayanan dan Penunjang Medis RSIS, Agus Setiawan kepada Koran Kaltim menjelaskan, awalnya dugaan penyerangan terhadap RSIS itu setelah kedatangan dua orang yang mengaku dari Dinas PU Kaltim masuk gedung RSIS tanpa permisi, dan langsung mengecek lokasi. Akhirnya, pihak RSIS mendatangi dan bertanya, diketahui upaya itu dilakukan untuk mendata. Pihak RSIS mengarahkan ke pihak Yarsi lebih dulu, sebelum mendata, tak lama dua orang tersebut kembali lagi dan mengaku akan datang lagi ke RSIS.
“Memang datang tanpa surat perintah. Setelah bertemu pihak Yarsi, mereka pulang dan berjanji datang hari ini (kemarin, Red). Itu saja yang saya tahu,” terangnya kepada Koran Kaltim, kemarin.
Agus menjelaskan, barang-barang yang didata antaralain alat medis dan aset Yarsi. Pihaknya pun menyebut, aset Pemprov Kaltim hanya 30 hingga 40 persen, namun kondisi aset tersebut saat diberikan dalam kondisi rusak. “ RSIS dibangun setelah terima bantuan warga, ormas Islam dan tokoh agama. Kami heran, dalam waktu singkat kekayaan RSIS berubah nama dan dilaporkan atasnama Pemprov Kaltim senilai Rp43 miliar,” jelasnya.
Agus berharap dapat diberi izin operasional sementara, untuk persiapkan berbagai hal sebelum keluar dari gedung milik Pemprov tersebut, dan siapkan pembangunan gedung baru dan menghitung aset RSIS secara objektif, karena wakaf umat yang bakal dipindahkan.
Atas kabar penyerangan itu, pihak RSIS Samarinda dan ormas Islam tergabung dalam Aliansi Kerukunan Umat (AKU) tampak berada di RSIS, siang kemarin. Meski demikian, ormas Islam pendukung RSIS tetap menuntut Gubernur Awang Faroek Ishak memberi izin operasional gedung bekas RSU tersebut ke RSIS. Rencananya, Jumat (2/12) akan digelar aksi dengan sejumlah agenda.
“Kami sudah siapkan barisan untuk mendukung RSIS, kami menilai gedung ini aset umat Islam di Kaltim. Kami tetap tuntut kejelasan atas aset umat. Kami tetap minta diberi izin sementara untuk operasional RSIS,” kata Koordinator AKU, Yoyok Setiawan kepada Koran Kaltim, kemarin.
Yoyok menjelaskan, pihaknya bersatu dengan menghimpun sejumlah elemen masyarakat di Kaltim untuk mendukung RSIS Samarinda. Hingga kini, 50 ormas sudah bergabung diantaranya FPI, KAHMI, HMI, BKPRMI Kaltim dan ormas lainnya. (man)