Rabu, 27/12/2017

Eksotisme “Kerbau Perenang” di Desa Melintang

Rabu, 27/12/2017

KERBAU PERENANG: Pengembala menggiring rombongan kerbau rawa ke tempat mencari makan.

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Eksotisme “Kerbau Perenang” di Desa Melintang

Rabu, 27/12/2017

logo

KERBAU PERENANG: Pengembala menggiring rombongan kerbau rawa ke tempat mencari makan.

DI Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, terdapat dua danau besar yakni Danau Semayang dan Danau Melintang. Danau Semayang yang luasnya mencapai 13.000 hektare masuk dalam Kecamatan Kenohan, sedangkan Danau Melintang agar lebih kecil yakni seluas 11.000 hektare masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Muara Wis.

Uniknya, tepat di tengah-tengah Danau Melintang, terdapat satu perkampungan penduduk, Desa Melintang. Aktivitas sehari-hari warga seluruhnya dilakukan di atas air. Semua bangunan berdiri di atas air, mulai dari rumah, kantor desa, masjid, sekolahan dan fasilitas umum lainnya. Jembatan ulin yang panjang menjadi pengganti jalan kampung yang saling menghubungkan, bisa dibayangkan betapa berisiknya jalan ulin tersebut apabila dilewati motor, apalagi saat malam hari.

Hampir sebagian besar warga Desa Melintang, bermata pencaharian sebagai nelayan. Jika air sedang pasang atau musim banjir, maka akses ke desa nelayan ini hanya bisa di tempuh dengan transportasi air, yakni ketinting (perahu kecil bermesin,Red). Namun apabila sedang musim kemarau, maka danau akan menjadi kering kerontang hingga bisa dilewati kendaraan roda dua, bahkan roda empat.

Danau Melintang yang kaya dengan beragam aneka tanaman air seperti eceng gondok dan rerumputan liar lainnya, mendorong sebagian warga untuk memanfaatkannya dengan memelihara kerbau rawa (bubalus bubalis), atau dinamakan juga kerbau kalang, karena hewan ternak ini apabila musim banjir akan dinaikan ke kandang kayu tak beratap (dalam bahasa setempat disebut kalang). Musim banjir sendiri bisa terjadi selama berbulan-bulan dengan kedalaman air yang cukup tinggi bahkan bisa sampai ke atap rumah.

Di Desa Melintang, populasi kerbau rawa cukup banyak yakni mencapai 450 ekor. Kerbau rawa ini merupakan jenis kerbau yang bisa berenang di air untuk mencari makan, sehingga peternak tidak terlalu repot untuk mencarikan pakannya.

“Malah kalau danau lagi musim surut, kerbau-kerbau itu tidak pernah pulang ke kalang tetapi masuk dalam hutan - hutan sekitar,” kata Ketua Kelompok Peternak Kerbang Kalang Lebak Singkil, Desa Melintang, Alkan.

Sebaliknya, saat air danau dalam kondisi banjir hingga seluruh permukaan danau tenggelam, maka kerbau-kerbau tersebut akan dikandangkan sambil menunggu air surut. “Kalau dibiarkan terus berendam bisa mati,” katanya. (okz) 

Eksotisme “Kerbau Perenang” di Desa Melintang

Rabu, 27/12/2017

KERBAU PERENANG: Pengembala menggiring rombongan kerbau rawa ke tempat mencari makan.

Share

Berita Terkait