Jumat, 04/10/2019

Polda Papua Pindahkan Tujuh Tersangka Kerusuhan ke Tahanan Polda Kaltim

Jumat, 04/10/2019

Ilustrasi demonstrasi papua. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

Polda Papua Pindahkan Tujuh Tersangka Kerusuhan ke Tahanan Polda Kaltim

Jumat, 04/10/2019

logo

Ilustrasi demonstrasi papua. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

KORANKALTIM.COM, Jakarta --Tujuh tersangka serangkaian kasus kerusuhan di Papua akan dipindahkan ke tahanan Polda Kaltim.

Dari tujuh orang yang dikenal para aktivis Papua merdeka itu, salah satunya adalah Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Agus Kossay.

"Tujuh orang dipindahkan ke Polda Kaltim," kata Juru bicara internasional KNPB Victor Yeimo, dilansir dari CNNIndonesia.com, Jumat (4/10), 

Selain Agus Kossay, enam aktivis Papua lainnya yang dipindahkan adalah Buchtar Tabuni, Fery Kombo, Alexsande Gobai, Steven Itlay, Hengki Hilapok, dan Irwanus Uropmabin.

Dalam surat bernomor B/076/XRES.1.24/2019/Ditreskrimum tersebut, para tersangka dipindahkan penahanannya dari rutan Polda Papua ke rutan Polda Kalimantan Timur.

"Sambil menunggu penetapan pengalihan tempat persidangan oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia," bunyi surat yang bertanda tangan Direskrimum Polda Papua, Kombes Tony Harsono.

Polda Papua belum memberikan konfirmasi terkait kabar pemindahan tersebut. Kabid Humas Polda Papua, Kombes AM Kamal belum menjawab saat dihubungi.

Sementara itu Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo saat dihubungi  menyebut masih memeriksa informasi mengenai pemindahan tersebut. 

Sebelumnya, Amnesty International Indonesia mencatat sedikitnya 22 aktivis Papua ditangkap dan ditahan dengan jerat pasal makar. 

Para tersangka dan ditahan berdasarkan Pasal 106 dan 110 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), yang merupakan bagian dari Bab Kejahatan Terhadap Keamanan Negara dengan ancaman hukuman maksimum penjara seumur hidup.

Di Polda Metro Jaya ada enam aktivis yakni Dano Tabuni, Carles Kosai, Ambrosius Mulait, Isay Wenda, Arina Lokbere yang dibawa dari tempat berbeda pada 30 dan 31 Agustus 2019. Mereka ditetapkan sebagai tersangka makar di aksi protes depan Istana Kepresidenan di Jakarta pada 28 Agustus.

Di Manokwari, provinsi Papua Barat, polisi menahan Sayang Mandabayan di bandara setempat pada 2 September karena membawa 1.500 bendera Bintang Kejora mini, yang dituduhkan akan digunakan untuk aksi protes yang akan diadakan di kota tersebut. Polisi menetapkannya sebagai tersangka di bawah pasal 106 dan 110 KUHP dan menahannya di Polisi Resor (Polres) Manokwari.

Polres Manokwari juga menahan tiga mahasiswa dengan pasal yang sama:Erik Aliknoe, Yunus Aliknoe dan Pende Mirin. Mereka diamankan karena telah mengorganisasi aksi protes anti rasisme di Manokwari pada tanggal 3, 6, dan 11 September 2019. 

Lalu di Jayapura, polisi menahan delapan aktivis dengan pasal yang sama. Mereka dituduh sebagai dalang aksi protes damai antirasialisme yang kemudian menjadi melibatkan kekerasan di Jayapura tanggal 29 Agustus. Kemudian, antara 9 dan 23 September di Jayapura, polisi menahan tiga pemimpin KNPB (Agus Kossay, Steven Itla, dan Assa Asso) dan seorang aktivis ULMWP yang juga mantan Ketua KNPB (Buchtar Tabuni).

Polisi juga menahan empat mahasiswa Papua (Ferry Kombo, Alexander Gobay, Henky Hilapok dan Irwanus Urupmabin) antara tanggal 6 dan 11 September di Jayapura. Mereka disangkakan sebagai dalang kerusuhan pada 29 Agustus di Jayapura. 

Di Sorong, Papua Barat, polisi menahan empat aktivis Papua (Rianto Ruruk alias Herman Sabo, Yoseph Laurensius Syufi alias Siway Bofit, Manase Baho dan Ethus Paulus Miwak Kareth) pada tanggal 18 September. 

Mereka ditetapkan tersangka atas tuduhan pelanggaran Pasal 106 dan 110 KUHP karena memproduksi dan membagikan pamflet berisi gambar bendera Bintang Kejora dengan kata-kata "Referendum, Papua Merdeka" saat aksi protes di kota tersebut antara 16 dan 18 September. (*)

Polda Papua Pindahkan Tujuh Tersangka Kerusuhan ke Tahanan Polda Kaltim

Jumat, 04/10/2019

Ilustrasi demonstrasi papua. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Berita Terkait


Polda Papua Pindahkan Tujuh Tersangka Kerusuhan ke Tahanan Polda Kaltim

Ilustrasi demonstrasi papua. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

KORANKALTIM.COM, Jakarta --Tujuh tersangka serangkaian kasus kerusuhan di Papua akan dipindahkan ke tahanan Polda Kaltim.

Dari tujuh orang yang dikenal para aktivis Papua merdeka itu, salah satunya adalah Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Agus Kossay.

"Tujuh orang dipindahkan ke Polda Kaltim," kata Juru bicara internasional KNPB Victor Yeimo, dilansir dari CNNIndonesia.com, Jumat (4/10), 

Selain Agus Kossay, enam aktivis Papua lainnya yang dipindahkan adalah Buchtar Tabuni, Fery Kombo, Alexsande Gobai, Steven Itlay, Hengki Hilapok, dan Irwanus Uropmabin.

Dalam surat bernomor B/076/XRES.1.24/2019/Ditreskrimum tersebut, para tersangka dipindahkan penahanannya dari rutan Polda Papua ke rutan Polda Kalimantan Timur.

"Sambil menunggu penetapan pengalihan tempat persidangan oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia," bunyi surat yang bertanda tangan Direskrimum Polda Papua, Kombes Tony Harsono.

Polda Papua belum memberikan konfirmasi terkait kabar pemindahan tersebut. Kabid Humas Polda Papua, Kombes AM Kamal belum menjawab saat dihubungi.

Sementara itu Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo saat dihubungi  menyebut masih memeriksa informasi mengenai pemindahan tersebut. 

Sebelumnya, Amnesty International Indonesia mencatat sedikitnya 22 aktivis Papua ditangkap dan ditahan dengan jerat pasal makar. 

Para tersangka dan ditahan berdasarkan Pasal 106 dan 110 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), yang merupakan bagian dari Bab Kejahatan Terhadap Keamanan Negara dengan ancaman hukuman maksimum penjara seumur hidup.

Di Polda Metro Jaya ada enam aktivis yakni Dano Tabuni, Carles Kosai, Ambrosius Mulait, Isay Wenda, Arina Lokbere yang dibawa dari tempat berbeda pada 30 dan 31 Agustus 2019. Mereka ditetapkan sebagai tersangka makar di aksi protes depan Istana Kepresidenan di Jakarta pada 28 Agustus.

Di Manokwari, provinsi Papua Barat, polisi menahan Sayang Mandabayan di bandara setempat pada 2 September karena membawa 1.500 bendera Bintang Kejora mini, yang dituduhkan akan digunakan untuk aksi protes yang akan diadakan di kota tersebut. Polisi menetapkannya sebagai tersangka di bawah pasal 106 dan 110 KUHP dan menahannya di Polisi Resor (Polres) Manokwari.

Polres Manokwari juga menahan tiga mahasiswa dengan pasal yang sama:Erik Aliknoe, Yunus Aliknoe dan Pende Mirin. Mereka diamankan karena telah mengorganisasi aksi protes anti rasisme di Manokwari pada tanggal 3, 6, dan 11 September 2019. 

Lalu di Jayapura, polisi menahan delapan aktivis dengan pasal yang sama. Mereka dituduh sebagai dalang aksi protes damai antirasialisme yang kemudian menjadi melibatkan kekerasan di Jayapura tanggal 29 Agustus. Kemudian, antara 9 dan 23 September di Jayapura, polisi menahan tiga pemimpin KNPB (Agus Kossay, Steven Itla, dan Assa Asso) dan seorang aktivis ULMWP yang juga mantan Ketua KNPB (Buchtar Tabuni).

Polisi juga menahan empat mahasiswa Papua (Ferry Kombo, Alexander Gobay, Henky Hilapok dan Irwanus Urupmabin) antara tanggal 6 dan 11 September di Jayapura. Mereka disangkakan sebagai dalang kerusuhan pada 29 Agustus di Jayapura. 

Di Sorong, Papua Barat, polisi menahan empat aktivis Papua (Rianto Ruruk alias Herman Sabo, Yoseph Laurensius Syufi alias Siway Bofit, Manase Baho dan Ethus Paulus Miwak Kareth) pada tanggal 18 September. 

Mereka ditetapkan tersangka atas tuduhan pelanggaran Pasal 106 dan 110 KUHP karena memproduksi dan membagikan pamflet berisi gambar bendera Bintang Kejora dengan kata-kata "Referendum, Papua Merdeka" saat aksi protes di kota tersebut antara 16 dan 18 September. (*)

 

Berita Terkait

ASN yang Bekerja di IKN Bakal Diseleksi Ketat

Guru Agama Dipastikan Dapat THR, Kemenag Sudah Distribusikan Anggaran ke Satker

Tradisi Muslim Cham yang Tak Puasa Ramadan dan Salat Lima Waktu Ternyata karena Ini

Tiap Jumat, Murid SD di PPU Ikuti FEF untuk Budayakan Bahasa Inggris dan Tingkatkan SDM Menyambut IKN

Andi Setiadi, Wartawan Setia Kejujuran Berpulang

Warga Desa Binuang Sempat Dengar Suara Dentuman di Hutan Rimba Gunung Batuarit Sebelum Pesawat Hilang

Penerapan KRIS Gantikan Sistem Kelas BPJS Kesehatan Tinggal Tunggu Waktu, Menkes: Kami Harapkan Bulan Ini

BPJS Kesehatan Syarat SKCK Sudah Berlaku di Enam Polda, Termasuk di Kaltim?

Tunjangan Beras PNS Ternyata Segini Besarannya per Bulan

Bakal Didampingi Prabowo, Presiden Jokowi ke Kaltim Besok Resmikan Proyek di Samarinda dan Bontang juga Datangi IKN

Presiden Jokowi Hari Kamis Lusa ke Samarinda dan Bontang, Resmikan Terminal dan Pabrik Bahan Peledak

Malam Ini Nisfu Sya’ban, Ini Amalan-Amalan yang Umat Muslim Sebaiknya Lakukan

Terbanyak Berasal dari Sulawesi Selatan, Malaysia Deportasi 292 PMI Lewat Pelabuhan Tunon Taka Nunukan

SMSI Apresiasi Komitmen Jajarannya Jaga Independensi dan Kedamaian Pemilu 2024

Iuran BPJS Kesehatan Berpotensi Naik pada Juli 2025, Begini Tanggapan Presiden Jokowi

Tahun 2024, Kemarau di Indonesia Tak Sekering 2023, Masyarakat Diminta Waspada Waspada Karhutla

Tahun Ini, BPDAS-MB Sudah Distribusikan Lima Juta Bibit Pohon, Terbanyak di IKN

Abu Vulkanik Tebal Keluar dari Gunung Dukono di Pulau Halmahera Pagi Ini

Copyright © 2024 - Korankaltim.com

Tunggu sebentar ya. Kami sedang menyiapkannya untukmu.